30 April 2018

WELCOME MAY DAY LAE TAMBOK!!

Tambok duduk meringkuk disudut sel kecil itu, dia terdiam dengan air matanya, darah kering masih menempel di rambut dan leher serta tengkuknya. Matanya nanar hampir tak bisa melihat, mata itu sembab lebam membiru. Bibirnya juga tampak membengkak dan darah masih terlihat di sela sela giginya. Tubuh kurusnya tampak bergetar hebat menahan rasa sakit yang tiada Tara. Hari ini, adalah hari ternaas selama hidupnya. Dan tak pernah membayangkan bahwa dia harus menghuni sel sempit berbau itu dan menjadi seorang perampok.Tambok mengisi sekat hayal, membayangkan ajakan Among dan Inong beberapa bulan  lalu, agar mereka pulang  kampung dan menjadi pangula (petani) dia membayangkan Rotua istrinya, Sihar , Taruli, Arta duduk bersama di gadu gadu hauma (pematang sawah), membakar gadong dan gulamo, dan berjalan beriringan menuju Huria Bolon Lumban Sipahut.

Pagi sebelumnya, Tambok terbangun, dan buru buru memandikan Sihar anaknya yang kelas 3 SD, lalu menyuapi borunya Taruli yang masih tiga tahun sambil menggendong Arta Boru siampudannya(bontot). Tambok selalu bangun subuh untuk menyiapkan segalanya, dia harus masak, memandikan anak anaknya, mengantar Sihar sekolah dengan mengayuh sepeda tuanya, tentu saja harus membonceng Taruli juga sambil menggendong Arta. Sudah enam bulan terakhir dia melakukannya, Setelah dia di PHK dan sampai hari ini tidak ada kejelasan pesangon atau uang apapun untuk diterimanya. Akhirnya sejak empat bulan lalu, istrinya Rotua harus banting tulang. Setiap Subuh, Rotua sudah terbangun dan membawa goni, Rotua membantu ekonomi mereka dengan membantu inang inang dipasar untuk berjualan sayur dipasar subuh, dan sesudah itu dia memulung. Pendapatan Rotua hampir tak bisa memenuhi kebutuhan mereka. Dan sejak itulah, Taruli dan Arta harus bolak balik ke puskesmas dan Rumah Sakit, katanya karena gizi buruk. Dan Tambok akan selalu kesal dan marah ketika harus menunggui mereka dengan layanan BPJS yang melambat. Pagi itu, Rotua mengatakan "Pa...ibu haji minta kosongkan kontrakan ini jika dua hari lagi kita tak lunasi tunggakan yang empat bulan ini".

Masih terngiang ngiang ucapan Rotua pagi itu, dan itulah akhirnya Tambok meraih Map kusam tempat surat surat lamarannya. Sudah beberapa bulan ini, hampir tiap hari dia berjalan kaki memasukkan lamaran ke setiap pabrik, tapi batasan umur menjadi pengahalang selain tidak ada lowongan. Setelah berjalan mulai siang, Tambok terduduk di sudut kawasan industri itu, dibawah pohon diatas tumpukan beling beling sampah bangunan rubuh. Dia berdoa mudah mudahan Sihar cepat pulang dan menjaga kedua adiknya yang Tambok tinggalkan di rumah dengan cara mengunci gerendel dari luar. Dia hanya fokus untuk memenuhi kebutuhan mereka dan untuk membayar kontrakan. Kepalanya pusing, tangannya mengepal, marah akan nasib, melaknat kebijakan untuk kaum buruh. Dia merasa selama ini dia hanya diperbudak, dia sadar akan hal itu, tapi dia harus menjual tenaga dan meredam rasa marah dengan ketidakadilan itu, karena dia butuh kerja.
Matanya tiba tiba tertuju dengan seorang gadis yang tampak bingung, berjalan sambil memegang kertas berisi alamat. Tiba tiba iblis di hati Tambok membisikkan "ini adalah kesempatan mu". Mata Tambok tertuju pada tas coklat yang dibawa si gadis. Tambok melihat sekeliling, dan semua tampak sepi, Tambok berlari mendekat dan langsung merampas tas itu, gadis itu memperlihatkan perlawanan, dia berteriak teriak "rampok!!!.. rampok!!...Tolongggg!!...Tolongggg!!".

Tambok panik, lalu mendorong gadis itu hingga terjatuh, dia berhasil mendapatkan tas itu, dan dia berlari sekencangnya. Langkahnya terhenti, puluhan orang sudah mengepung, dia bingung tapi makin memegang erat tas itu, dia kembali berlari, tapi massa sudah tak bisa dicegah dari berbagai arah, dan itulah awal terhentinya dunia khilaf baginya. Pukulan, tendangan, balok, genteng, batu bata, semua mendarat ditubuhnya. Walaupun dia berteriak ampun dan menyembah, massa semakin menjadi jadi, bajunya dirobek, celananya dibuka, lalu dia diseret seperti binatang. Darah melumuri tubuhnya, tapi tetap saja manusia manusia yang sudah seperti binatang itu menginjak injaknya. Massa yang kalap berteriak "bakarrr!!!...bakarrr!!". Tambok makin ketakutan dalam rasa sakit yang mendalam, dalam sakit itu, dia hanya membayangkan wajah polos Rotua istrinya, juga ketiga anak anaknya. Dia pasrah, baginya neraka yang membakar itu akan segera melahap tubuh kurusnya. Hingga suara letusan senjata berkali kali terdengar memekakkan telinga. "Berhenti!!!...Sudahhh...Bubarr!!!".

Rombongan mobil patroli membubarkan dan menghentikan aksi biadab itu. Dan polisi meraih dan membuka tas yang dirampas dihadapan si gadis juga disaksikan oleh warga. Dan Gadis itu mengakui bahwa uang dua puluh ribu, Map merah berisi lamaran lamaran kerja itulah isi tas itu.

Note :
Jika besok buruh berteriak, mengumpat, berontak dengan ketidakadilan akan hak haknya. Itu adalah manifestasi dari prinsip "Jangan pernah setia pada kekurangan dan tunduk dibawah penindasan".

Prosesi perjuangan buruh untuk penegakan keadilan melalui demonstrasi telah tertuang dan menjadi sejarah panjang bangsa ini, tapi tetap saja realitas hari ini kita diperhadapkan dengan posisi buruh yang selalu lemah dan semakin tertindas.

Apa yang terjadi? Saya tidak hendak membangun wacana kontroversi, bukan mengucapkan ujaran kebencian atau agitasi provokatif, tapi hanya sedikit sentimen dengan realitas. Ternyata reformasi yang lalu hanya mampu membangun demokrasi secara struktural. Penyampaian penyampaian kritisme terhadap hak yang dilanggar melalui demonstrasi dan orasi selalu jalan di tempat dan cenderung cuma letupan sesaat atau onani tanpa penetrasi. Jadilah sebuah kondisi "Buruh menjadi pengemis kejadian".

Hari ini, "buruh" masih buruh yang sama nasibnya dengan jaman nasi gaplek hingga jaman Facebook. Buruh selalu menjadi objek eksploitasi; perbudakan era modern , penghilangan  hak hak normatif menjadi pekerjaan rumah bagi para pejuang kaum ploretat.
Upah murah, dan undang undang perlindungan buruh yang tidak begitu berpihak. Dan upah murah menjadi iklan kita untuk dijual bagi para investor dari negara negara kapitalis. Kenqpq upah murah? Apa tanggung jawab Tripartite/komisi pengupahan?. Jelas lah upah akan  murah, karena  teori untuk mengambil kebijakan tentang upah  hanya berdasarkan KFM(kebutuhan fisik minimum). Sudah saatnya para pejuang kaum buruh berjuang dengan mengkoreksi, mengkritisi regulasi Undang undang, peraturan dibawah undang undang kita gugat ''Uji Materil" di MK atau  kita bawa ke Mahkamah Agung.

Apakah kita akan diam? Apakah kita akan tunduk? Apakah mengalah? Hari ini adalah hari perenungan bagaimana kita besok menyambut hari yang katanya untuk kita kaum buruh. Apakah kita mau seperti Tambok?

Selamat Hari Buruh.
Peace and Not Violence


Sumber: facebook Lumban Sipahut

Pantai Pasir Putih Pandua Nainggolan-Samosir

Pemkab Samosir terus menggenjot pembenahan sektor pariwisata sebagai salah satu pilar yang diniali mampu meningkatkan perekonimian masyarakat setempat. Setelah Pantai Pasir Putih dan Pantai Indah Situngkir, baru-baru ini Pemkab Samosir buka Pantai Pasir Pitih Tandarabun yang juga berlokasi di daerah Parbaba Kecamatan Pangururan Samosir.

Keindahan Danau Toba yang banyak mendapat pujian, tentu menjadi salah satu peluang besar bagi masyarakat di kawasan Danau Toba. Demikianhalnya bagi warga Samosir sebagai daerah dengan kawasan Danau Terluas. Dengan memanfaatkan keindahan tersebut, tak heran jika pengembangan objek wisata di sekitar tepian Danau Toba khususnya daerah Samosir banya di lirik.

Saat ini, pengembangan objek wisata untuk darah bagian timur pulau Samosir yakni Kecamatan Nainggolan, kembali mendapat perharian Pemerintah Kab.Samosir. Pengembangan tempat wisata Pantai Pasir Putih Pandua yang letaknya tidak jauh dari pusat kota Nainggolan, tengah di galakan. Tak tanggung-tanggung, Pemkab Samosir melalui Dinas Pekerjaan Umum membantu Pemerintah Desa Nainggolan dalam hal pembenahan lokasi wisata dengan alat berat. Selain perhatian Pemerintah, warga Desa Nainggolan melalui kepala desa juga mengharapkan partisipasi dan kerjasama anak rantu daerah tersebut untuk mendukung dan menyukseskan pembenahan hingga terwujudnya objek wisata baru Pantai Pasir Putih Pandua di Nainggolan-Samosir.